Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

Cerpen~Dia yang Istimewa

“ Dia yang Istimewa ” Belajar menjadi seorang guru tentulah tidak mudah bagi seorang mahasiswa yang masih mengenyam bangku kuliah ketika dosen menuntutnya terjun ke lapangan untuk praktik mengajar. Ada rasa grogi atau gugup bahkan situasi yang aneh ketika berhadapan dengan wajah-wajah polos tanpa dosa. Seperti yang saya rasakan ketika berhadapan dengan mereka yang menyambut saya dengan riang gembira di depan gerbang sekolah. Mereka yang tanpa malu dengan ingus di pipinya, berlepotan makanan di bibirnya ia tetap tersenyum bergelayut manja khas anak Sekolah Dasar. Anak-anak dengan karakter yang berbeda-beda. “Ada Bu guru baru ! Ada Bu guru baru !“ Teriakan dari salah seorang siswa yang membuat saya terkejut ketika memasuki ruangan kepala sekolah. Dengan perasaan yang campur aduk antara malu dan belum siap untuk duduk Bu Tini segera menghadiahkan segelas air putih. Beliau sepertinya tahu apa yang saya rasakan. “Jangan canggung, nanti kamu akan terbiasa kalau sudah lama disini, a...

Cerpen~ Surat Undangan di Penghujung Senja

“Surat Undangan di Penghujung Senja”             Karya : Ela Nuraeni Fajarwati             Pagi dengan rinai yang masih memeluk matahari. Mawar merah di halaman rumah meringkuk kedinginan, rasa kemanusiaanku tak sampai sejauh burung berkelana nampak tak sanggup   mengayomi batangnya. Aku menyisir rambut di depan cermin meneliti setiap jengkal wajahku dan Ah... Jerawat Sialan! Rutukku kesal mengumpati benjolan merah yang bertamu tanpa permisi.             “Nadine sudah cukup dengan kewarasanmu itu” suara itu membuat darahku mendidih, langkah kakiku tak tepat arahnya menginjak kotakan keramik. Sampai tak sadar kursi itu menyerimpung kakiku hingga tersungkur ke lantai karena tak sanggup menjaga keseimbangan. Batang hidungku kini mencium debu yang menempel, untung saja tidak ada kotoran hewan atau cicak yang senga...

Puisi ~ Arti Sebuah Atap

“Arti Sebuah Atap”   Karya: Ela Nuraeni Fajarwati Ketika menengadahkan kepalamu sepuluh sentimeter saja Taukah betapa terpuruknya manusia itu ? Ia tidak bisa hidup tanpa pelindung Kulitnya sangat sensitif Begitupun otaknya yang disebut-sebut adalah bentuk kesempurnaan dibanding binatang Kayu, bambu dan tanah liat yang membentang melindungi rambut Tidakkah berpikir itu lucu ? Kau sendiri membayangkan keluargamu dibawah terik panas lugu dagumu berkerut Lalu bagaimana dengan bata yang mengelilingi seolah memeluk ragamu yang mati saat terlelap tidur tanpa alaspun kau mampu ? Tanpa atap ragamu kaku Lekaslah buktikan agar kau tahu Semahal apa pakaianmu akan mencari atap untuk berteduh Semewah apapun kendaraanmu kau akan mencari atap ketika lelah Tonjong, 11 Desember 2018

Covid-19

    Tulisan ini akan Saya ingat nanti ketika cerita bumi kita hari ini sudah usai, tentang Virus yang menyebarluas keberbagai penjuru dunia. Keramaian adalah hal yang dihindari saat ini, anak-anak sekolah berhari-hari hanya berlindung dibawah atap rumahnya untuk melakukan aktivitas belajar, sistem daring dan belajar online diterapkan dimana-mana. pemerintah beramai-ramai mengeluarkan kebijakan untuk warganya agar bersosial distancing menyelematkan diri di dalam rumah, LOCKDOWN !! lantang mereka, imbasnya adalah kondisi perekonomian semakin sulit. rintihan masyarakat menegah bawah yang paling serius, bagaimana hanya berdiam diri saja ketika kebutuhan sehari-hari lebih penting dari sekedar rebahan. Alhasil mereka tetap berprinsip untuk melakukan aktivitas seperti biasa tanpa menghiraukan tantangan yang begitu sulit.    Semangat untuk kita semua menghadapi virus korona atau Covid-19, semoga tetap dilindungi Allah dan lekas pergi dari bumi kita Indonesia. Go Corona ...

Puisi~ Ragu

Deretan angka yang berjajar menatap pilu Laser mata kosong membisu Jangkauan yang begitu lihai tak berpihak pada tanganku Meski hanya satu senti jarak kamu dan aku Aku buta melihat perasaanmu membeku Aku masih dalam keraguan Menuntun raga yang tak jauh mengenaskan Hanya sekedar menopang dagu Aku tak bisa bertanya dengan diriku Mengapa rasanya angin membenci sekali Tali mengikatku kencang Membuatku sakit hanya menanggalkan tangan Hatiku tersayat akan cerita kelam Malu rasanya hanya sekedar menghirup oksigen Apa kamu bisa menerimaku lapang ?  Maret 2020