Postingan

Puisi~ Percakapan Kita Setelah Badai

“Percakapan Kita Setelah Badai“ Tuhan mendengar rintihan yang terlantun dengan hati Amin serius yang menantang langit Menyisakan kepingan-kepingan klise aku mencintaimu Aku berdiri menanti dipelabuhan Menanti kapal berlayar mengarungi haru biru keberuntungan Mengibar bendera pelangi membimbing monologku Pilu palsu dan badai kini bersatu Dari lahir yang berjarak kaku Aku melantunkan syair damai Dari mula tak kenal kini berdiri berdampingan Tak pernah kubayangkan betapa rancunya bisa memilih Inilah keberuntunganku wahai Hawa sang manusia pemilik cinta pertama Tak terhitung kata cinta yang bisa aku ungkap Pura-pura lupa fana Aku terlalu yakin untuk menerjang kebebasan Kamu menunduk pelan menguatkan kekhawatiran Mari hidup bersama menembus terang meski ditengah liar halilintar Rehat menghilangkan suntuk sejenak sambil berterima kasih Aku mencoba mengerti kerautan didahimu Dulu kita bisa saja memilih orang lain Untuk mengisi kekosongan rasa sedih Tapi ter...

Song Fiction/ Shawn Mendes

SONG FICTION Naskah ini sudah pernah saya ikutkan lomba di DSPI dalam event menulis Song Fiction. dan menjadi naskah terbaik di DPSI. Kali ini saya akan membagikan sebagai kenang-kenangan menulis Song Fiction untuk pertamakalinya. Happy reading Guys!!! Nama Penulis              : Ela Nuraeni Fajarwati Judul Cerita                : Datanglah Kasih, Aku Menunggumu Lagu Inspirasi            : Shawn Mendes_Treat You Better Isi                                 : I Wont lie to you I know he’s just not right for you And you can tell me if i’m off But, i see it on yout face When you say that he’s the one that you want And you’re spendin...

Puisi- Malam Ramadhan

Ramadhan sebentar lagi izinkan saya menuliskan sebuah puisi untuk menyambut kedatangan bulan yang penuh kemenangan ini.  saya sebagai muslim tentu sangat sangat menunggu bulan penuh ampunan ini.   SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA “Malam Ramadhan”   Luruh air mata mencumbu sajadah Sepertiga malam meniti lekuk diri Bagaimana jika dosa memakan tubuh kurus penuh pilu ? Magfirah Allah dibulan ramadhan ini Berharap berlipat-lipat menggugurkan kekangannya Biarpun dingin menikmati curahan hati sang pemilik raga Menyampaikan bait-bait renjana pada sang maha Esa Ditengah bulan suci yang hadir Menenggelamkan manusia berlomba-lomba mencari hikmah Kala fajar menyingsing sampai senja hilang oleh kumandang azan  Lantunan ayat suci memeluk malam Menemani dalam rapalan do’a-do’a di sepertiga malam Butir-butir zikir tak lelah berotasi Mengiringi detik jarum jam menelusuri angka-angka Sampai laksana sahur menyapa

Puisi_ Potret Luka Hari

Keluarga adalah rumah, kamu mampu bercerita banyak tentang masalah, kamu berteduh dengan nyaman tanpa rasa takut. Ada ayah dan ibu mungkin lengkap lagi ada kakak, adik maupun dirimu sendiri membuat suatu ikatan kenyamanan, keharmonisan dan kasih sayang untuk saling mengingatkan. Maka bagaimana jika keluarga itu hanya sebuah pemicu kesengsaraan, pemicu kesedihan berhari-hari tanpa kamu bisa menghilangkannya atau sejenak melupakan. Lantas bagaimana hari-hari itu memandangmu dengan ketidaksukaan, ia menangis menyaksikanmu tersedu, ia benci melihatmu hanya menekuk lutut dipagi sampai malam hari lantas punggungmu terisak tak ingin beranjak kemanapun seperti tengah memikul beban berat.   Puisi ini bercerita tentang luka hari yang menyaksikan kepedihan manusia berhari-hari selama masih bernyawa, dan kesedihan kali ini akan menyaksikan sebuah perpisahan tanpa alur yang baik, perpisahan yang membawa duka bagi manusia lain. Perpisahan yang mensejajarkan ketidakdewasaan dan kebencia...

Cerpen~Dia yang Istimewa

“ Dia yang Istimewa ” Belajar menjadi seorang guru tentulah tidak mudah bagi seorang mahasiswa yang masih mengenyam bangku kuliah ketika dosen menuntutnya terjun ke lapangan untuk praktik mengajar. Ada rasa grogi atau gugup bahkan situasi yang aneh ketika berhadapan dengan wajah-wajah polos tanpa dosa. Seperti yang saya rasakan ketika berhadapan dengan mereka yang menyambut saya dengan riang gembira di depan gerbang sekolah. Mereka yang tanpa malu dengan ingus di pipinya, berlepotan makanan di bibirnya ia tetap tersenyum bergelayut manja khas anak Sekolah Dasar. Anak-anak dengan karakter yang berbeda-beda. “Ada Bu guru baru ! Ada Bu guru baru !“ Teriakan dari salah seorang siswa yang membuat saya terkejut ketika memasuki ruangan kepala sekolah. Dengan perasaan yang campur aduk antara malu dan belum siap untuk duduk Bu Tini segera menghadiahkan segelas air putih. Beliau sepertinya tahu apa yang saya rasakan. “Jangan canggung, nanti kamu akan terbiasa kalau sudah lama disini, a...

Cerpen~ Surat Undangan di Penghujung Senja

“Surat Undangan di Penghujung Senja”             Karya : Ela Nuraeni Fajarwati             Pagi dengan rinai yang masih memeluk matahari. Mawar merah di halaman rumah meringkuk kedinginan, rasa kemanusiaanku tak sampai sejauh burung berkelana nampak tak sanggup   mengayomi batangnya. Aku menyisir rambut di depan cermin meneliti setiap jengkal wajahku dan Ah... Jerawat Sialan! Rutukku kesal mengumpati benjolan merah yang bertamu tanpa permisi.             “Nadine sudah cukup dengan kewarasanmu itu” suara itu membuat darahku mendidih, langkah kakiku tak tepat arahnya menginjak kotakan keramik. Sampai tak sadar kursi itu menyerimpung kakiku hingga tersungkur ke lantai karena tak sanggup menjaga keseimbangan. Batang hidungku kini mencium debu yang menempel, untung saja tidak ada kotoran hewan atau cicak yang senga...

Puisi ~ Arti Sebuah Atap

“Arti Sebuah Atap”   Karya: Ela Nuraeni Fajarwati Ketika menengadahkan kepalamu sepuluh sentimeter saja Taukah betapa terpuruknya manusia itu ? Ia tidak bisa hidup tanpa pelindung Kulitnya sangat sensitif Begitupun otaknya yang disebut-sebut adalah bentuk kesempurnaan dibanding binatang Kayu, bambu dan tanah liat yang membentang melindungi rambut Tidakkah berpikir itu lucu ? Kau sendiri membayangkan keluargamu dibawah terik panas lugu dagumu berkerut Lalu bagaimana dengan bata yang mengelilingi seolah memeluk ragamu yang mati saat terlelap tidur tanpa alaspun kau mampu ? Tanpa atap ragamu kaku Lekaslah buktikan agar kau tahu Semahal apa pakaianmu akan mencari atap untuk berteduh Semewah apapun kendaraanmu kau akan mencari atap ketika lelah Tonjong, 11 Desember 2018