Puisi_ Potret Luka Hari

Keluarga adalah rumah, kamu mampu bercerita banyak tentang masalah, kamu berteduh dengan nyaman tanpa rasa takut. Ada ayah dan ibu mungkin lengkap lagi ada kakak, adik maupun dirimu sendiri membuat suatu ikatan kenyamanan, keharmonisan dan kasih sayang untuk saling mengingatkan. Maka bagaimana jika keluarga itu hanya sebuah pemicu kesengsaraan, pemicu kesedihan berhari-hari tanpa kamu bisa menghilangkannya atau sejenak melupakan. Lantas bagaimana hari-hari itu memandangmu dengan ketidaksukaan, ia menangis menyaksikanmu tersedu, ia benci melihatmu hanya menekuk lutut dipagi sampai malam hari lantas punggungmu terisak tak ingin beranjak kemanapun seperti tengah memikul beban berat. 

 Puisi ini bercerita tentang luka hari yang menyaksikan kepedihan manusia berhari-hari selama masih bernyawa, dan kesedihan kali ini akan menyaksikan sebuah perpisahan tanpa alur yang baik, perpisahan yang membawa duka bagi manusia lain. Perpisahan yang mensejajarkan ketidakdewasaan dan kebencian yang berpadu mengimbangi ego masing-masing.

 “Potret Luka Hari” 

Rinai hujan dini hari 
Menyembunyikan keluh dari sepasang manusia 
Samar celoteh kebencian serta ketidakdewasaan 
Hambar matahari menyinar tampak tak ada lengkungan senyum 
 Kabut memaksa duduk enggan beranjak dari rasa yang kalut 
Menyaksikan perpisahan yang berujung tragedi  

Seperti inikah pemandangan setiap kali fajar tiba 
Apakah angin terlalu memanjakannya ? 
Mengapa harus ada pertengkaran
Mengapa masih ada ketidaksyukuran
Seperti itukah manusia menyambut hari
Gemilangnya retak dengan ucapan singkat keputusasaan

Wahai manusia ! 
Kalian tak lihat bumi menyaksikan dengan pedih anak-anakmu tersedu
Tarikan napas mensejajarkan dengan ketidakwarasan ego
Punggungnya bergetar meringis menahan tangis
Melihat perpaduan gelap berperang tak acuh
Mengugurkan figura keluarga berkeping-keping

Tonjong, 18 April 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Covid-19

Song Fiction/ Shawn Mendes

Puisi- Malam Ramadhan