Song Fiction/ Shawn Mendes

SONG FICTION

Naskah ini sudah pernah saya ikutkan lomba di DSPI dalam event menulis Song Fiction. dan menjadi naskah terbaik di DPSI. Kali ini saya akan membagikan sebagai kenang-kenangan menulis Song Fiction untuk pertamakalinya. Happy reading Guys!!!


Nama Penulis             : Ela Nuraeni Fajarwati
Judul Cerita               : Datanglah Kasih, Aku Menunggumu
Lagu Inspirasi           : Shawn Mendes_Treat You Better
Isi                                :

I Wont lie to you
I know he’s just not right for you
And you can tell me if i’m off
But, i see it on yout face
When you say that he’s the one that you want
And you’re spending all yout time
In this wrong situasion
And anytime you wont it stop

Angin kencang di bulan juli menerbangkan apa saja yang dilaluinya, tak peduli seberapa berat kesadaran manusia mengumpulkan sampah-sampah yang berserakan namun tetap saja angin tak peduli. Dan dibawah cahaya matahari pagi Aku tertunduk meratapi kegundahanku menikmati kebimbangan yang menerpa hari-hariku beberapa minggu terakhir, saat dengan bodohnya aku mengakui perasaanku yang sebenarnya pada gadis yang sudah lama menyandang status sebagai sahabat karibku. Jatuh cinta memang membuat Aku menjadi semakin gila melakukan hal-hal diluar batas kesadaran tanpa menanggung konsekuensinya. Melin Nindia Afriani gadis yang 10 tahun menemani hari-hariku kini tak terdengar kabarnya, bahkan sosoknyapun lenyap bagai ditelan ombak setelah kejadian satu minggu yang lalu, saat ia bertengkar hebat dengan sang kekasih.
Aku ingat jelas mata sembab dan wajah yang memerah akibat tangisannya yang tak kunjung mereda. Melin menangis bersandar di bahuku, dengan segelas mocca dingin menjadi saksi bisu luapan emosinya. Melin berikrar dengan segala kekecewaannya bahwa dia resmi putus dari sang kekasih. Aku tertegun sejenak saat mendengar kabar itu, Entah itu kabar bahagia ataupun sedih, tetapi dalam lubuk hati terdalamku Aku justru dengan tanpa dosa meneriaki kemenanganku, bahwa Aku memiliki kesempatan baik untuk mendapatkan hati Melin seutuhnya.
“Kamu tau kan Dean ? Aku masih cinta sama Diva, bahkan Aku selama ini menuruti semua permintaannya “ ucap Melin sambil menangis sesenggukan. Aku hanya bisa mengusap bahunya pelan untuk memberikan ketenangan. Namun nampaknya hatiku pun ikut terbakar kala mendengar kalimat itu dari mulut Melin. Itu artinya bagaimanapun Diva menyakitinya, Melin masih menaruh hati pada Diva dan masih sangat menyukai laki-laki itu.
“Mel, masih banyak laki-laki di sana yang baik dan bahkan dengan tulus mencintai Kamu, air mata Kamu sekarang terbuang percuma ngak ada gunanya, kalau kamu kaya gini terus hanya buang-buang energi “ ucapku pelan. Melin justru kini memelukku dengan erat.
“Gimana caranya biar secepatnya Aku bisa lupain Diva, Dean ? “ Melin kini menanggapi dengan terus memelukku. Rasa sedihnya kini seolah menular keseluruh sendi tubuhku. Aku hanya mematung sejenak mencari jawaban yang tepat.
“Kamu hanya butuh Aku Mel “ jawabku asal. Tangis Melin mereda saat itu juga melepaskan pelukannya dan menatapku sejenak. Membuatku gelagapan untuk menjelaskan. Namun Melin seketika itu balas tersenyum.
“Terima kasih Deandra “
Tanganku terulur membasuh jejak air matanya yang masih menggenang di pipi. Dan saat itulah Aku mengatakan kalimat yang membuat Melin terdiam dan meninggalkanku tanpa kata dikedai kopi.
“Aku mencintai Kamu Melin “


Kini Aku hanya bisa merindukan canda tawanya di bawah bayang-bayang fajar dan ketika lembayung tiba menyambut senja. Hari-hariku sepi tanpa gadis itu yang setiap hari berkunjung ke rumahku hanya untuk membawa sebungkus gorengan kesukaanku.
            Aku pikir ketika Aku menyatakan perasaanku tak akan membuat Melin marah sampai dia tidak ingin bertemu denganku, bahkan ia tak mengaktifkan nomor ponselnya. Persahabatan yang sudah kujalin sangat lama dengan Melin seolah retak begitu saja.
            “Deandra ada Melin di luar ? “
Awalnya Aku kira itu hanya suara halusinasiku saja, mengingat Ibu yang terus menanyakan kabar Melin akhir-akhir ini. Aku terperanjat kaget saat memastikan keadaanku bahwa sekarang Aku sedang tidak bermimpi.
            “Melin datang, Bu ?” Jawabku memastikan
Ibu mengangguk, sambil memberi kode untuk segera menemui Melin.
Melin kini menyambutku di ruang tamu, ia terlihat segar bahkan tersenyum seperti biasanya. Senyum yang ku rindukan beberapa minggu terakhir dari seorang Melin.
            “Gimana kabar Kamu, Dean ?” tanya Melin segera memecah kesunyian yang ku buat. Dia meletakkan kantong plastik yang Aku yakini itu gorengan kesukaanku.
            “Biasa gorengan ibu Wati sudah buka pas Aku mau kesini, sekalian beli” tambahnya santai sebelum Aku menjawab pertanyaannya. Aku hanya menjawab seperlunya.
            “Kamu lagi marahan Dean ? “ tanya Melin lagi yang membuat aku lekas menggeleng cepat. Melin menanggapinya dengan tertawa. Aku memang tidak tahu harus berbicara apa, seolah lidahku kelu untuk memulai percakapan.
            “Terima kasih Deandra, Promise I’ll never let you down
Aku hanya menatap Melin tidak mengerti. Dia tersenyum kini lekas duduk di sampingku. Dia mengulurkan tangannya meminta berjabat tangan denganku.
            “Kenalkan Aku Melin Nindia Afriani gadis yang katanya kamu sukai, benarkah ? “ tanya Melin dengan enteng. Ia memberi kode agar Aku lekas menjabat tangannya.
Give me a sign
Take my hand, we’ll be fine
Promise i won’t let you down
Just know that you don’t
Have to do this alone
Promise i’ll never let you down

Aku lekas menjabat tangannya, lantas dia langsung memelukku erat.
“Aku ngak bisa kehilangan Kamu, Dean ?, dan Aku ngerti sekarang siapa yang benar-benar merjuangin Aku, orang selalu ada untukku dan pastinya sayang sama Aku. Cuma Deandra “ Melin kini meneteskan air matanya haru.
“Aku memang bukan yang terbaik Mel, tapi Aku ingin mencoba lebih baik dan terus lebih baik agar Kamu ngak rasain kekecewaan lagi, cukup waktu itu saja Kamu salah memilih cinta “
Melin mengangguk samar, dia mengeratkan pelukannya lagi, dan Aku sangat bersyukur untuk hari ini bahwa Melin tidak benar-benar pergi dari sisiku.

Brebes, 14 Agustus 2018



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Covid-19

Puisi- Malam Ramadhan