Cerpen~ Surat Undangan di Penghujung Senja


“Surat Undangan di Penghujung Senja”
            Karya : Ela Nuraeni Fajarwati

            Pagi dengan rinai yang masih memeluk matahari. Mawar merah di halaman rumah meringkuk kedinginan, rasa kemanusiaanku tak sampai sejauh burung berkelana nampak tak sanggup  mengayomi batangnya. Aku menyisir rambut di depan cermin meneliti setiap jengkal wajahku dan Ah... Jerawat Sialan! Rutukku kesal mengumpati benjolan merah yang bertamu tanpa permisi.
            “Nadine sudah cukup dengan kewarasanmu itu” suara itu membuat darahku mendidih, langkah kakiku tak tepat arahnya menginjak kotakan keramik. Sampai tak sadar kursi itu menyerimpung kakiku hingga tersungkur ke lantai karena tak sanggup menjaga keseimbangan. Batang hidungku kini mencium debu yang menempel, untung saja tidak ada kotoran hewan atau cicak yang sengaja menjatuhkan tubuhnya dari langit-langit plafon. Membayangkannya saja membuatku bergidik ngeri.
            “Hari ini Nadine disuruh ngapain bu ?“ tanyaku manis pada ibu yang tengah sibuk memotong bawang merah tapi anehnya mata ibu tidak berair sekalipun. Sudah saatnya aku bereaksi tanpa aba-aba perintah dari instruktur mengambil panci dan memasukkan air lantas menghidupkan kompor gas.
            Sudah satu tahun rasanya menjadi seorang pengangguran setelah di phk dari tempat kerjaku, untungnya tabunganku masih tersisa untuk membuka warung bakso dan mie ayam di depan rumah. Kesempatan itulah yang akhirnya melibatkanku dengan Zainal membicarakan pengalaman hidup yang pahit dengan jadwal yang tersusun rapi. Sabtu dan minggu kesempatanku untuk bertemu dengan Zainal.
            Hari ini Zainal datang menemuiku mengatakan bahwa salah satu bunga mawar merahku layu dan berguguran mengotori pot-nya. Aku hanya berdecak masa bodoh sambil menyuguhi  secangkir kopi yang asapnya masih mengepul. Zainal mengeluarkan sebungkus rokok dan korek dari saku jaket tanpa berniatan untuk menyulut rokoknya karena dia sudah menyadari kehadiranku yang kini duduk di kursi sebelah dengan menyilangkan kedua tangan.
            “Katanya kopi itu lebih nikmat kalau minumnya sambil merokok ya“ tanyaku pada Zainal yang kini sedang berusaha menyeruput kopi. Matanya melirikku sejenak lantas alih-alih dia memegang bungkus rokoknya memperlihatkan padaku.
            “Menurutmu bagaimana, Din ? “ Zainal bertanya. Aku menggangkat kedua bahuku tidak ingin mengerti lebih tepatnya.
            “Aku tidak pernah merokok jadi aku tidak paham bagaimana rasanya ?” Zainal kini menatapku. Dari raut wajahnya tampaknya dia sedang menunjukkan sisi keseriusan, memang aku tak pernah melihat Zainal merokok namun setiap kali bertemu, Zainal selalu membawa rokok dan korek. Bahkan aku tak habis pikir dengan kelakuannya itu.
            “Lalu rokok dan korek yang setiap kamu bawa itu bukan milikmu ? “ tanyaku yang baru saja menyadari satu hal dari seorang Zainal ia bukan perokok. Memang perkenalan kami baru saja berjalan satu bulan dan tentunya banyak hal yang belum aku ketahui tentangnya. Zainal laki-laki yang menikmati mie ayam buatan ibuku dengan banjir air mata. Pedas sambal dan kesedihannya yang berbaur pada gerimis sore yang muram itu memeluk tubuh ibuku meminta maaf atas tindakan konyolnya.
            Saat itulah aku mengecapnya sebagai laki-laki tercengeng yang pernah aku temui dengan sikapnya yang tidak dewasa. Namun setelah mendengar petuahnya aku semakin yakin bahwa dia laki-laki yang tidak pandai menyembuhkan luka tetapi nasehatnya melebihi dakwah ustaz yang ingin aku dengar setiap hari.
            Sore itu pertemuan pertamaku dengan Zainal yang mungkin dibilang tidak menyenangkan, saat itu tubuhku deman dan muntah-muntah. Zainal yang sedang berbincang-bincang dengan ibu diruang tengah yang terus menerus meminta maaf atas ketidakdewasaaannya menjadi terganggu. Ibu mendapatiku yang sedang tergeletak lemas di depan kamar mandi hingga yang ku lihat samar-samar adalah Zainal yang mengangkat tubuhku.
            Kesadaranku kembali setelah dua jam berlalu disebuah puskesmas. Hanya ada ibu yang sedang berbincang-bincang dengan seorang perawat yang membawakan jatah makan malam. Dan selang beberapa menit Zainal datang menjenguk membawakan buah-buahan untukku.
            “Lekas sembuh ya ? “ katanya sambil tersenyum menampakkan lesung pipitnya.
            “Terima kasih “ jawabku lemas tak lupa juga kami untuk berkenalan.
            Kopi itu kini hanya tersisa residunya, sinar matahari perlahan menyusup menghangatkan badanku yang kini masih tergulung jaket. Suara kendaraan sudah memadati jalan raya kala itu, para kernet mendayu-dayu menyanyikan kota tujuannya memanggil para penumpang. Aku masih dengan rasa penasaranku, Zainal terlihat santai menikmati pemandangan di depan rumahku, mungkin dia sedang menghitung berapa bus yang sudah melewati jalan aspal itu.
            “Kamu bisa temani aku hari ini, Din ?”
            “Kemana ? “ jawabku cepat, Zainal mengambil kunci motornya. Lantas dia memasuki rumah memanggil ibu, entah apa yang akan dilakukannya. Beberapa saat dia keluar sudah menenteng helm milikku.
            “Ibu sudah mengizinkan, ayo ikut aku, Din ? “ tawarnya. Zainal sudah menghidupkan mesih motornya menungguku untuk bergerak. Aku lantas menuruti kemauannya saja.
            Kami tiba disebuah perumahan yang merupakan tempat tinggal Zainal menurut cerita yang kudengar darinya kalau ayah dan ibunya memang sudah bercerai, satpam penjaga menyapanya dengan senyum sambil mengatakan “Ibumu sudah datang Mas“ katanya sambil meledek dan menanyakan siapa aku namun Zainal tak menanggapinya terlalu jauh, aku sedikit gemetar dan bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Zainal. Mendengar kata ibu saja aku langsung speechless di tempat.
            Motor Zainal kini tiba di depan rumah dengan pagar besi, halaman itu nampak penuh dengan pepohonan hijau dan berbagai macam bunga tumbuh disana. Aku turun lebih dahulu dan membuka pagar rumahnya. Zainal menyuruhku masuk bersamanya.
            “Assalamu’alaikum “
            “Wa’alaikum salam “jawab seseorang dari dalam. Wanita dengan rambut pirang yang saat ini sedang duduk santai menikmati tayangan Homeshooping langsung bergegas menyambut Zainal dengan memberinya pelukan. Ibu Zainal ternyata masih muda dan cantik, dia menyadari kehadiranku, aku menyapanya dengan canggung.
            “Cantik Nadine ya, saya Ibunya Zainal Ranti “ sapa wanita itu yang kini menghampiriku dan memelukku. Rasanya sudah tidak perlu untuk berkenalan lebih jauh, mungkin Zainal sudah lebih dulu mengenalkanku padanya. Err... itu sih agak berlebihan memang aku siapanya dia mungkin saja Zainal sudah mengirim pesan pada ibunya kalau dia membawaku ke rumahnya itu lebih rasional.
            “Mana oleh-oleh untuk ibu Zain ? “
            Zainal tampak merogoh saku jaketnya dia mengeluarkan rokok dan korek memberikan pada ibunya yang kini tengah kegirangan. “Terima kasih Zain anakku “ ucap ibunya lantas dia beralih menatapku yang masih berdiri mirip manekin.
            “Jangan canggung begitu Nadine ? anggap saja rumah sendiri “ Kekehnya yang kini menarik paksa tanganku untuk duduk. Aku menatap Zainal dia tersenyum seolah mengatakan “Lakukan apa yang kamu mau Nadine” lantas Zainal menghilang.
            “Baru kali ini Zain membawa perempuan ke rumahnya selain ibu” wanita itu menyulut rokok dan sekarang aku tahu rokok dan korek yang dibawa Zainal itu adalah milik ibunya. Ia meminta maaf padaku jika membuatku tidak nyaman karena asap rokoknya.
            “Saya memang wanita pecandu rokok sudah 25 tahun lamanya, sempat berhenti karena mengandung Zain waktu itu, ibu ini sudah bergantung hidupnya pada rokok, tanpa rokok mau mati rasanya, Zain memang sangat membenci ibunya yang perokok ini “ suara itu seperti sebuah penyesalan bagi ibu Zainal, namun nampaknya tidak akan ada ujung penyelesaiannya. Kelihatannya pun sikap membenci Zainal pada ibunya hanyalah gurauan semata, dia tak terlihat seperti anak pembangkang yang mendurhakai ibunya.
            “Sudah selesai curhatnya, Bu “ Zainal tiba-tiba menyela dia kembali berkumpul sambil membawa nampan berisi segelas air putih dan toples berisi makanan ringan.
            “Lho tamu jauh-jauh kenapa suguhannya hanya segelas air putih Zain kamu bikin malu ibu saja “
            “Saya tahu kesukaan Nadine bu ?” jawab Zainal dengan enteng. Wanita itu tersenyum kearahku lantas mengusap rambutku seperti hewan peliharaan kesayangannya. kami tertawa bersama-sama saat itu pula, wanita itu memelukku dengan erat meski aroma rokok masih melekat ditubuhnya, pelukan itu sangat nyaman, tentram dan rasanya membahagiakan begitupula Zainal ada senyum yang tidak bisa kuartikan, senyum bahagia seseorang menikmati kehidupannya.
            Sampai senja tersenyum menyorakki kebahagiaanku melihat Zainal bahkan menaruh pundi-punda rasa sayang pada laki-laki itu begitu sebaliknya. Zainal mengungkapkan perasaannya “Rasanya aku tidak ingin menyembunyikannya lagi, Din ? “ ucapnya. Zainal menatapku lantas menggenggam tanganku erat.”Aku menyukaimu Nadine “ Detik itu pula kami memulai hubungan sebagai sepasang kekasih. Zainal tak henti-hentinya mengirimku pesan setiap saat menanyakan hal-hal konyol yang membuatku tertawa setiap kali membacanya. Rutinitas Zainal setiap sabtu dan minggu tidak pernah absen untuk berkunjung ke rumah.
            Namun dihari sabtu genap satu tahun hubungan asmara kami Zainal tak terlihat batang hidungnya. Aku sempat mengirimnya pesan dan menelpon namun saat itu yang mengangkat ibunya. Aku khawatir seketika itu, ibunya mengatakan dia baik-baik saja dan Zainal menitipkan salam untukku karena tidak bisa datang ke rumahnya.
            “Ada apa dengannya ? “ aku lantas bergegas mengambil kunci motor, pamit kepada ibu untuk pergi ke rumah Zainal. Sesampainya dipintu gerbang komplek perumahan satpam yang kini sudah mengenalku menyapa dengan senyum.
            “Selamat siang Mba Nadine, mau ketemu siapa ? “ tanyanya.
            “Mas Zainal pak” jawabku cepat.
            “Lho Mas Zainal kan sudah pindah satu minggu yang lalu “
            “Pindah ? “ aku tercengang mendengarnya. Bagaimana tidak Zainal tak memberitahuku perihal kepindahannya. Aku menghubungi kembali nomor telepon Zainal namun kini tidak aktif. rasanya aku ingin mengumpat dengan kata-kata kasar saat itu juga.
            Kini pikiranku berterbangan, rasa cemas melingkupiku yang ku lakukan hanya menggigit jari menunggu balasan pesan dari Zainal. Namun sampai senja hadir pun pesan itu rasanya sia-sia saja. Sampai kumandang adzan maghrib tiba suara motor yang terparkir di depan rumah membuatku bergegas membuka pintu berharap Zainal yang datang. Namun nihil hanya tukang ojek yang kini mencariku.
            “Mba Nadine tadi ada Mas-Mas yang nitip bingkisan ini, katanya untuk mba “ aku bingung sekaligus penasaran. Setelah sholat barulah aku membuka bingkisan itu yang ternyata isinya secarik kertas dan kertas yang nampak mirip kertas undangan dibawahnya.
            “Wah niat banget ini kasih surprise “ pikirku. Aku tercenung saat membaca nama pengirimnya. Zainal laki-laki itu yang mengirimnya.
           
Assalamu’alaikum wr.wb
                        Untuk Nadine, mungkin seribu maafku tidak akan menghapus kekecewaanmu nanti. Maaf hari ini aku tidak datang berkunjung. Banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu tapi waktu nyatanya tak menghendaki untuk melakukan keinginanku itu. terimakasih Nadine kamu wanita yang mau mendengar keluh kesahku, penyemangatku, dan semua tentang kamu adalah hal yang membuat aku bahagia. Rencana yang ku tulis nyatanya tak bisa menghancurkan skenario tuhan, aku tidak ingin menyebutnya sebuah malapetaka atau bencana. Aku tidak bisa membenci tuhan apalagi membenci orang tuaku yang merencanakan semua. Sekali lagi aku meminta maaf Nadine.            
            Aku termenung memahami semua kalimat yang terlontar Zainal melalui suratnya. Belum sekalipun aku memahami apa maksud dibalik permintaan maafnya, nada kalimat yang penuh penyesalan. Kertas berwarna kuning keemasan yang kini tersisa ditanganku, dengan hati-hati aku membuka sampulnya. Seketika air mataku luruh bersama hati yang tersayat perihnya berita yang sungguh tidak terduga. Zainal akan menikah begitu yang bisa ku simpulkan dari kertas undangan pernikahan yang diberikan Zainal. Aku tanpa sadar meremas kertas undangan itu dengan rasa kekecewaanku dan rasa sakit hati yang bertumpuk-tumpuk.  


             
           

           

           
           


           


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Covid-19

Song Fiction/ Shawn Mendes

Puisi- Malam Ramadhan