Puisi~ Percakapan Kita Setelah Badai


“Percakapan Kita Setelah Badai“

Tuhan mendengar rintihan yang terlantun dengan hati

Amin serius yang menantang langit

Menyisakan kepingan-kepingan klise aku mencintaimu

Aku berdiri menanti dipelabuhan

Menanti kapal berlayar mengarungi haru biru keberuntungan

Mengibar bendera pelangi membimbing monologku


Pilu palsu dan badai kini bersatu

Dari lahir yang berjarak kaku

Aku melantunkan syair damai

Dari mula tak kenal kini berdiri berdampingan

Tak pernah kubayangkan betapa rancunya bisa memilih

Inilah keberuntunganku wahai Hawa sang manusia pemilik cinta pertama


Tak terhitung kata cinta yang bisa aku ungkap

Pura-pura lupa fana

Aku terlalu yakin untuk menerjang kebebasan

Kamu menunduk pelan menguatkan kekhawatiran

Mari hidup bersama menembus terang meski ditengah liar halilintar

Rehat menghilangkan suntuk sejenak sambil berterima kasih


Aku mencoba mengerti kerautan didahimu

Dulu kita bisa saja memilih orang lain

Untuk mengisi kekosongan rasa sedih

Tapi teriakkan saja sekarang semuanya bodoh!

Hanya aku dan kamu tapi bumi bukan hanya milik kita berdua

Terlalu kejam bukan ?


Aku memang tidak terpikirkan akan menemukan takdir seperti ini

Dulu hanya bayangan marahkah ? maniskah kamu? mana bisa tahu masa depanku

Sifatku atau sifat kamu yang bagaimana? Bagus tidak kalau bersama

Coba sekarang bayangkan saja bintang itu bersanding dengan tubuh penuh duka

Menyembuhkan senyum langka dari aku yang sendu

Kolase hidupku kini terbentuk sempurna


Aku sudah berjanji

Untuk menciptakan rumah ketenangan

Berbalik badan akan kamu temui aku disana

Kita singkirkan egoisme bersama mengalahkan cerita fiksi

Naskah kita tertulis dengan sangat romantis

Mengalahkan jejak pujangga roman legendaris

 

Malam Sabtu, 8 Mei 2020

(Karanganjog, Tonjong)

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Covid-19

Song Fiction/ Shawn Mendes

Puisi- Malam Ramadhan