Cerpen~Dia yang Istimewa


Dia yang Istimewa
Belajar menjadi seorang guru tentulah tidak mudah bagi seorang mahasiswa yang masih mengenyam bangku kuliah ketika dosen menuntutnya terjun ke lapangan untuk praktik mengajar. Ada rasa grogi atau gugup bahkan situasi yang aneh ketika berhadapan dengan wajah-wajah polos tanpa dosa. Seperti yang saya rasakan ketika berhadapan dengan mereka yang menyambut saya dengan riang gembira di depan gerbang sekolah. Mereka yang tanpa malu dengan ingus di pipinya, berlepotan makanan di bibirnya ia tetap tersenyum bergelayut manja khas anak Sekolah Dasar. Anak-anak dengan karakter yang berbeda-beda.
“Ada Bu guru baru ! Ada Bu guru baru !“
Teriakan dari salah seorang siswa yang membuat saya terkejut ketika memasuki ruangan kepala sekolah. Dengan perasaan yang campur aduk antara malu dan belum siap untuk duduk Bu Tini segera menghadiahkan segelas air putih. Beliau sepertinya tahu apa yang saya rasakan.
“Jangan canggung, nanti kamu akan terbiasa kalau sudah lama disini, apalagi kalau sudah kenal mereka “
Saya sangat berterimakasih dengan wejangan beliau, wajah yang tegas dan penuh wibawa meski keriput sedikit menghias di wajah ayunya yang tertutup cadar. Bu Tini tampak orang yang tak mengeluh atas beban yang ia hadapi ketika menjadi seorang wanita yang di percaya sebagai kepala sekolah. Badannya tetap segar, matanya memancar kemilau kelembutan dan kasih sayang dengan hijab yang ia kenakan. Dia dengan senang hati menerima saya sebagai mahasiswa yang akan melakukan praktik mengajar selama satu minggu di sekolahnya.
Hari itu adalah hari dimana saya terjun dalam dunia pendidikan nyata, mengenal orang-orang yang belum pernah saya temui sebelumnya. Suasana yang berbeda dan situasi yang sangat luar biasa di Sekolah Dasar berbasis Islami dengan panggilan Bu guru. Tentu saja hari-hari saya tidak mudah ketika awal masuk praktik mengajar.
“Selamat Pagi anak-anak ? Apa kabar kalian hari ini ? Perkenalkan nama Bu guru Nur Aeni hari ini Bu guru yang akan mengajar kalian “
Begitulah ketika saya mengawali kegiatan praktik mengajar di salah satu kelas perkenalan yang menjadi formalitas utama untuk mengalihkan kegugupan. Memulai pembelajaran dengan hal-hal menyenangkan untuk mencairkan suasana tegang dengan menunjuk salah satu siswa yang duduk paling belakang untuk maju di depan kelas. Dari awal masuk kelas memang siswa tersebut sangat menarik perjatian saya, dia nampaknya siswa yang paling pendiam dari semua teman-temannya. Anak laki-laki kurus yang duduk sendirian.
“Ayo yang duduk dibelakang siapa namanya, sekarang maju ke depan “
“ Bahtiar, bu” jawab anak perempuan yang duduk persis di sebelah bangkunya.
“Ayo maju jangan malu-malu” Teriak teman-temannya yang lain dengan hebohnya, bahkan sayapun bertepuk tangan memeriahkan. Namun nampaknya dia tak bergeming dari tempat duduknya, menatap satu persatu temannya dengan bingung. Sayapun menghampiri lalu menarik lengannya dengan lembut.
“Ayo maju, nak “
Dia lalu mengangguk mengikuti perintahku.
“Dari tadi kamu diam saja di belakang, coba sekarang kamu nyanyi lagu pergi belajar ya “
Dia hanya diam tanpa mengangguk menatap salah satu temannya yang sedari tadi menjulurkan lidahnya berkali-kali kearahnya, nampak kilat kemarahan muncul di matanya. Saya berusaha menghentikaan temannya yang masih sibuk memprovokasinya, namun apalah daya justru semakin sengit hingga saya kewalahan dan membiarkannya.
“Semuanya diam ya, sekarang Bahtiar mau nyanyi lagu pergi belajar”
“Dia itu bodoh bu, enggak bisa nyanyi ! “ Jawab anak laki-laki yang sedari tadi terus menerus memprovokasinya, dan seketika itu semua teman-temannya ikut tertawa. Mata dia nampak berkaca-kaca. Mungkin jika saya tak menguatkannya dengan menyuruh untuk tak memperdulikan teman yang mengejeknya, dia sudah pasti akan menangis. Seketika itu kelas menjadi gaduh dan riuh. Anak laki-laki memukul-mukul meja layaknya memukul drum meski dengan irama yang berantakan.
“DIAM SEMUANYA !“ saya marah saat itu pula, memukulkan penghapus pada papan tulis. Suasana kelas menjadi horor bagi saya saat itu.
“Coba hargai teman kalian di sini ya “ ucap saya pelan berusaha meredam amarah. Sifat saya yang temperamen kadang membuat saya hilang kendali untuk berbuat sesuatu yang tidak mengenakan. Namun untuk menjaga image saya berhasil sabar kala itu. salah satu anak perempuan menghampiri saya sambil membisikkan sesuatu ditelinga saya.
“Bu, Bahtiar enggak bisa bicara ? dia bisu bu “
Seketika itu saya benar-benar merasa bersalah. Penyesalan mengalir dalam jiwa bersama rasa sesak yang mengampiri. Saat itulah terlihat dia berkelahi dengan temannya hingga menangis dan di bawa ke kantor oleh wali kelasnya. Dan saat itulah saya tahu bahwa dia tidak bisa berbicara sejak lahir.
***
Hari-hari begitu terasa melelahkan bagi saya kala itu, awal yang berkesan sangat tidak menyenangkan bagi siapapun yang merasakannya. Jujur saja dunia pendidikan bagi saya kala itu sangatlah tidak cocok dan saya berpikir bahwa kelak nanti saya merasa jauh diatas harapan menjadi seorang guru teladan yang sewaktu-waktu akan dirindukan oleh siswanya. Dan setelah lulus kuliah nanti saya tidak ingin menjadi guru.
“Tidak apa-apa, mereka memang sering bertengkar di dalam kelas “ ucap Bu Tini menjelaskan, seketika itu juga saya merasa gagal pada hari pertama saya praktik mengajar. Meski saya jalani hari-hari berikutnya dengan berusaha lapang dada.
Hari kedua memang tak terjadi lagi keributan dikelas, dia nampak tenang bersama buku tulisnya. Saya mendekat kala jam istirahat tiba.
“Bahtiar mau jajan sama bu guru ?”
Dia hanya menggeleng cepat, lalu saya duduk disampingnya. Dia terlihat sangat antusias menggambar mobil-mobilan dalam buku tulisnya. Tulisan tangannya memang sangat rapi dan bagus untuk ukuran anak sekolah dasar.
“Kalau bahtiar di rumah mainnya sama siapa ? “
Saya kala itu berani mengajak dia berinteraksi, awalnya dia hanya mendengarkan lalu menuliskan sesuatu di dalam buku tulisnya.
“SAMA NENEK “ tulis dia dalam bukunya. Lantas saya tersenyum kala itu, nampaknya dia memang sudah pandai menulis dan membaca. Saya mengelus pucuk kepalanya dengan lembut mencoba berinteraksi lebih lanjut dengan dia. Keadaan kelas memang sepi kala itu, nampak guru-gurupun hilir mudik tidak ada satupun yang peduli dengan kondisi siswa-siswanya.
Saya keluar sebentar ketika sudah mengobrol banyak meski dia menjawabnya dengan tulisan. Dari informasi yang saya dapat dari wali kelasnya dia memang siswa yang tidak pernah keluar saat istirahat tiba. Beberapa menit kemudian saya membawa 2 bungkus bakso yang memang sengaja saya beli untuk dia. Dia menerimanya dengan senang hati dengan menuliskan terima kasih bu guru dalam kertasnya.
            Hari-hari berikutnya memang saya jalani dengan penuh kesabaran ketika mengajar di dalam kelas. Alhamdulillah Allah memberikan kelancaran dan kemudahan. Tidak ada lagi grogi maupun canggung yang terpantri dalam diri. Anak-anak nampak menikmati dan menjalani dengan baik proses pembelajaran yang saya lakukan. Dia pun nampak antusias mengikuti pelajaran meski jarang berkomentar. Dia nampak menunjukkan semangatnya meski berbeda dengan anak-anak normal lainnya. Seringkali dia menunjukkan tulisan tangannya pada saya.
“Tulisan tangan kamu bagus ? “
Dia tersenyum ketika saya memujinya. Dia bahkan memperlihatkan gambar-gambar yang ia buat dalam buku tulisnya dari mulai gambar pemandangan, rumah dan orang-orangan. Bukunya pun berisi tulisan-tulisan di saat ia mengobrol dengan temannya. Gambaran dia memang bagus-bagus meski dalam hal akademik dia tergolong rendah. Guru-gurupun seringkali kesulitan dalam memberikan dia nilai. Namun bagi saya dia mempunyai sisi tersendiri untuk mendapat nilai lebih dari siswa terpintar sekalipun.
            Setelah 6 hari berlalu, ketika itu saya mengadakan perpisahan kecil-kecilan di dalam kelas dengan guru kelas yang mendampingi saya. Saya hanya mengucapkan salam perpisahan terlebih pada siswa-siswa saya yang telah saya ajar, tak lupa pun berterima kasih pada semua dewan guru yang membantu kelancaran praktik mengajar saya dan kepala sekolah yang memberikan saya izin mengajar. Hari itu adalah hari yang paling mengesankan bagi saya, perpisahan yang penuh arti dan ketika Allah menumbuhkan perasaan cinta menjadi seorang guru tumbuh kembali dalam diri saya. Tangis haru menyelimuti siswa-siswa saya yang dengan berat hati melepas saya. Diapun menangis sesenggukan di bangkunya mendekap erat kertas di dadanya tak mau beringsut ketika teman-temannya sibuk menyalami saya sambil berderai air mata.
“Bu guru jangan pergi “
“Bu guru sering-sering kemari ya “
Ucapan itu menghujani saya saat itu. berat rasanya memang melepaskan ketika saya sudah merasa nyaman bersama mereka. Ruangan kelas yang sudah bersahabat namun harus di tinggalkan begitu saja.
 “Kalian harus belajar yang rajin ya, jangan suka bertengkar di kelas “
Saya hanya memberi nasehat sebisa saya. Lalu tak lama Dia sudah menghampiri saya dengan mata merahnya. Memberikan gulungan kertas pada saya.
“Buat Bu guru ? “
Dia mengangguk cepat. Lantas saya segera memeluknya.
“Terima kasih ya, Bahtiar “
Saya hanya bisa berterima kasih, lantas saya pun membuka gulungan kertas itu memperlihatkan pada guru-guru yang lain di sana. Semua nampak antusias melihat apa yang tertera dalam gulungan kertas itu. setelah di buka saya pun terkesima dengan lukisan seorang wanita dengan motif hijab yang mirip dengan hijab yang pernah saya pakai, serta corak batik yang sama dengan yang saya kenakan sedang menggandeng anak laki-laki dengan memakai baju sekolah. Di sana bertuliskan BAHTIAR SAYANG BUGURU AENI. Tak bisa membendung rasa bahagia yang menyelimuti diri saya, air mata saya pun keluar kala itu juga. Dan lukisan itu adalah hadiah paling berharga yang pernah saya dapatkan dari seorang siswa yang istimewa.



Terima kasih Saya sampaikan untuk para pembaca tulisanku.
Tetap semangat menjalani hidup dan mensyukuri apa yang kita miliki sekarang ini.


Salam Literasi
Ela Nuraeni Fajarwati


Karanganjog, Tonjong, Kab.Brebes

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Covid-19

Song Fiction/ Shawn Mendes

Puisi- Malam Ramadhan